Rabu, 29 Oktober 2014

Gempar, Ditemukan Suku Baru Asli Purbalingga

http://wartapurbalingga.blogspot.com/
Dalam beberapa hari terakhir masyarakat Desa Ponjen dan masyarakat Kecamatan Karanganyar sekitarnya digemparkan dengan isu adanya suku baru asli Purbalingga.

Suku asing tersebut diketahui menempati hutan di Desa Ponjen. Tepatnya, jalan Desa ponjen yang akan dibuka ke arah Desa Karangjambu Kecamatan Karang Jambu. Pasalnya beberapa masyarakat sempat menjumpai sejumlah orang asing di wilayah tersebut dan tidak mengenakan pakaian.

 

Dari informasi (Grup JPNN) yang dihimpun Radarmas di lapangan, orang asing yang dianggap suku terasing tersebut beberapa kali muncul. Namun saat warga hendak menyapa dan menanyakan identitas orang yang tidak mengenakan pakaian tersebut langsung lari dan masuk ke dalam hutan.
 

Kejadian ini kemudian menyebar bukan hanya di Desa Ponjen saja namun sudah merambah ke desa lain yang ada di wilayah Kecamatan karanganyar dan sekitarnya.
 

Warga Desa Maribaya Ahmad Syarif mengatakan, beberapa hari ini dirinya memang mendengar prihal penemuan suku baru di Desa Ponjen. Menurut informasi dari masyarakat, orang tersebut tidak memakai pakaian sama sekali.
 

"Saat mau disapa warga, katanya langsung lari dan cara larinya sangat kencang, sehingga masyarakat tidak bisa menangkapnya," tuturnya.
 

Ia menambahkan, selain itu orang yang dianggap suku baru ini juga sempat terlihat bukan hanya sekali. Masyarakat beberapa kali menjumpai orang yang sama di area pembukaan jalan Desa Ponjen ke arah Desa Karang Jambu yang belum selesai.
 

Bahkan muncul isu lain lagi seperti dituturkan Adi warga Bobotsari. Menurut Adi ada juga kabar yang mengatakan orang-orang asing tersebut beberapa kali muncul dan menghilang secara tiba-tiba. "Konon kabarnya kaya bisa terbang," ujar Adi.
 

Sementara itu kepala Desa Ponjen Zaenal Arifin saat dikonfirmasi Radarmas mengatakan, sepengetahuan dirinya tidak ada suku baru di jalan baru Desa Ponjen menuju Desa Karang Jambu.
 

Namun, dari penelusurannya memang ada sepasang suami istri yang dulunya hidup di kadus IV yang kerjanya di hutan dan buruh. "Setelah dia tidak memiliki tanah kemudian dia menetap di atas daerah pinggiran hutan," tuturnya.
 

Ia menambahkan, orang tersebut namanya Warsidi dan memiliki empat orang anak. Warsidi sudah menetap di hutan tersebut sudah tujuh tahun lebih bersama keluarganya. Selama menetap di pinggiran hutan memang keluarga warsidi tidak pernah turun ke desa.
 

Sehingga, saat masyarakat menjumpai warsidi tersebut dianggap orang asing atau suku baru penghuni hutan tersebut.
 

Ia menjelaskan, setelah warga tersebut diidentifikasi sebagai warga kadus IV Desa Ponjen yang bernama Warsidi. Pihak desa sudah melakukan proses pembujukan agar Warsidi mau meninggalkan hutan dan bergabung dengan masyarakat desa lainnya. Pemerintah Desa Ponjen juga sudah menawarkan tanah kas desa untuk ditempati Warsidi dan keluarganya.
 

"Kita sudah siapkan tanah baru untuk tempat tinggal mereka namun sampai saat ini Warsidi dan keluarganya belum mau meninggalkan hutan," imbuhnya. (jok)
 http://www.jpnn.com/read/2013/05/10/171303/Geger,-Muncul-Suku-Baru-di-Purbalingga-

Sabtu, 25 Oktober 2014

Warga Sirau Rutin Berantas Babi Hutan

http://wartapurbalingga.blogspot.com/Puluhan warga Desa Sirau berburu babi hutan secara massal Rabu (22/10). Perburuan dilakukan karena populasi babi hutan sudah sangat meresahkan para petani. Apalagi menjelang musim tanam, babi hutan biasanya akan merusak tanaman.

Dibantu anjing-anjing pemburu yang sudah terlatih, warga menyisir kawasan hutan yang jadi tempat persembunyian kawanan babi hutan. Akhirnya, satu persatu babi hutan tertangkap. Babi hutan yang berhasil ditangkap ini bukan untuk dikonsumsi atau dijual, tapi dijadikan santapan anjing-anjing pemburu.


Tim pemburu babi hutan Desa Sirau, Mukdori (45) menjelaskan, menjelang musim tanam kegiatan berburu babi hutan memang lebih diintensifkan. Tujuannya agar hewan bercula tersebut masuk ke dalam hutan dan tidak lagi merusak tanaman masyarakat.


�Masyarakat berusaha agar tanaman bisa panen dan menghidupi keluarga,�tuturnya.

Setelah berburu, warga kemudian makan bersama di tengah hutan. Acara berburu babi ini menjadi ajang silaturahmi untuk mempererat tali persaudaraan antara warga desa.


Dori menambahkan, keberadaan babi hutan di ladang-ladang dekat hutan bukan hanya merusak tanaman milik petani. Biasanya, saat tanaman di ladang sudah habis, tidak jarang babi hutan masuk pemukiman warga.


Kepala Desa Sirau Hendri Sutrisno S Sos menuturkan, biasanya babi hutan menyerang tanaman masyarakat yang dekat dengan hutan. Selain dekat dengan habitat, saat diburu babi akan kembali ke hutan dan menghilang.


�Sudah menjadi kegiatan rutin untuk memerangi babi hutan agar tanaman masyarakat bisa panen,� jelasnya.(Jok/bdg)

Senin, 20 Oktober 2014

Listrik mati di Jateng karena gardu di Ungaran tersambar petir

http://wartapurbalingga.blogspot.com
Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo mengaku sedih setelah banyak wilayah di Jawa Tengah mengalami pemadaman listrik, Senin (20/10). Padahal hari ini adalah masyarakat tengah menyaksikan upacara dan syukuran pesta rakyat pelantikan Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Wakil Presiden Jusuf Kalla sebagai Presiden dan Wakil Presiden RI.

"Listrik mati saya sedih di daerah Semarang Barat lewat Twitter masyarakat banyak yang mengadu ke saya bahwa listrik banyak yang di daerahnya yang mati," ungkap Ganjar Pranowo saat memberikan pidatonya di acara malam Pesta Rakyat Syukuran Pelantikan Jokowi di Kawasan Lapangan Simpang Lima Kota Semarang, Jawa Tengah Senin (20/10) malam.

Padamnya listrik ini, menurut Ganjar karena terjadi gangguan arus pendek yang terjadi di wilayah Ungaran, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah. "Ternyata ada petir yang menyambar salah satu rangkaian listrik di travo PLN wilayah Ungaran. Kasihan mereka tidak bisa tonton rakyat yang sedang merayakan pelantikan Jokowi sebagai Presiden berlangsung," ujarnya.

Pemadaman listrik terjadi di wilayah Purwokerto dan sekitarnya mulai pukul 17.30 WIB. Sejumlah warga mengeluhkan pemadaman yang terjadi tanpa pemberitahuan.

Humas PLN Banyumas, Tri Elok Pribadi saat dihubungi wartawan mengatakan padamnya listrik terjadi akibat adanya gangguan di Gardu Induk Ungaran. "Info dari APD Jateng-DIY, trafo I dan II gardu induk 500 kVA mengalami trip," ujarnya.

Dia mengemukakan, dari informasi yang didapat, wilayah yang mengalami pemadaman listrik meliputi Banjarnegara, Purbalingga, Banyumas, Cilacap, Kebumen, Tegal, wilayah Semarang barat, Purworejo, Brebes hingga Yogyakarta.

http://www.merdeka.com/peristiwa/listrik-mati-di-jateng-karena-gardu-di-ungaran-tersambar-petir.html

Sabtu, 11 Oktober 2014

Jembatan Linggamas Belum Juga Dikerjakan

http://wartapurbalingga.blogspot.com/
Pembangunan tahap III jembatan Linggamas belum juga dikerjakan, meskipun Pemkab proyek tersebut sudah terlelang
30 September lalu. Dari pantauan di jembatan Linggamas, Desa Kedungbenda, Kecamatan Kemangkon, Selasa (7/10), belum nampak aktifitas pembangunan. Alat-alat pembangunan dari pihak rekanan juga belum terlihat berada di lokasi. Untuk diketahui, per 30 September 2014, PT Daya Samudera Cipta Mandiri Banjarnegara menang lelang megaproyek senilai Rp 3,4 miliar tersebut.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Purbalingga, Sigit Subroto mengatakan proyek ini bisa dikerjakan mulai tanggal 5 Oktober, setelah melewati masa sanggal empat hari dari waktu pengumuman pemenang lelang. Namun, saat dikonfirmasi Selasa (7/10), Sigit mengatakan, realisasi fisik akan dikerjakan pada tanggal 8 Oktober atau hari ini sesuai Surat Perintah Mulai Kerja (SPMK). Adapun kontrak kerjanya tertandatangani 6 Oktober.

�Pengerjaan awal akan membenahi tulangan untuk cor, karena kemungkinan ada yang kurang dan harus dilengkapi. Ini memakan waktu sekitar dua minggu, dan dilanjutkan pengecoran,� katanya.

Pembangunan pembangunan proyek Jembatan Linggamas tahap III akan dilaksanakan dalam waktu 60 hari kerja. Dengan asumsi tersebut, pada 10 Desember pengerjaan sudah dapat diselesaikan. �Harapannya semua pekerjaan fisik tahap ketiga jembatan bisa rampung dan tidak terjadi kendala yang menyebabkan putus kontrak,� katanya. (Ryan Rachman/CN38/SM Network)

http:// berita. suaramerdeka. com/jembatan-linggamas-belum-juga-dikerjakan/

Bandara Wirasaba Purbalingga Butuh Rp 100 Miliar (Bagian II)

http://wartapurbalingga.blogspot.com/
Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, mendukung penuh pembangunan Bandar Udara Wirasaba, Purbalingga. Landasan milik Angkatan Udara TNI itu bakal dikomersialisasikan dan ditargetkan bisa digunakan pada 2017.

Pemerintah Provinsi Jateng siap menambahkan dana yang diperlukan untuk membangun bandara itu. Diperkirakan, dana yang dibutuhkan sekitar Rp100 miliar.

"Ada lima pemkab lainnya yang siap untuk membantu (pendanaan), di antaranya adalah Banyumas, Banjarnegara, Kebumen, dan Wonosobo. Pemprov Jateng juga bakal mengucurkan dana. Saya kira tidak akan membebani anggaran di masing-masing daerah," kata Gubernur saat mengunjungi proyek Jembatan Linggamas, perbatasan antara Purbalingga dan Banyumas, Kamis (9/10/2014).

Tahap pertama yang harus dirampungkan adalah pembangunan Jembatan Linggamas yang merupakan penghubung antara Banyumas dan Purbalingga. Jembatan itu diperkirakan rampung pada 2015.

"Setelah selesai tahun 2015, nantinya akan segera masuk perencanaan pembangunan bandara. Target operasional bandara pada 2017 mendatang saya kira akan bisa terlaksana," ujar Ganjar.

Dengan adanya Bandara Wirasaba, kata Politikus PDIP itu, pembangunan di Jateng selatan akan lebih cepat. Dia berharap investor dari luar kota seperti Jakarta tak perlu lama mencapai Purbalingga dan sekitarnya, hanya membutuhkan waktu kurang lebih satu jam.

"Saya juga telah melakukan pembicaraan dengan sejumlah maskapai untuk menajajaki kemungkinan membuka penerbangan ke Purbalingga," ucap Ganjar. (JCO)

http:// news. metrotvnews. com/read/2014/10/09/302911/pembangunan-bandara-wirasaba-purbalingga-butuh-rp100-miliar